Selasa, 10 Oktober 2017

ANALGESIC DRUGS


Apakah kalian pernah merasakan sakit gigi? Biasanya kalian meminum obat apa jikalau sedang sakit gigi? Asam mefenamat? Ya, biasanya asam mefenamat digunakan oleh masyarakat untuk menurunkan rasa nyeri pada saat sakit gigi. Asam mefenamat termasuk kedalam golongan obat analgetik (obat anti nyeri) terutama analgetik non narkotika. Selain asam mefenamat, ada juga morfin. Namun, morfin biasanya digunakan untuk menurunkan rasa nyeri berat dan tidak dapat digunakan secara bebas, atau dengan kata lain harus sesuai resep dokter. Apakah anda tahu bagaimana obat analgetik dapat menurunkan rasa nyeri? Apa saja contoh obat analgetik?

SEKILAS TENTANG NYERI
Nyeri merupakan perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan, seperti peradangan (rema, encok), infeksi jasad renik atau kejang otot. Nyeri dapat disebabkan oleh adanya rangsangan mekanis, kimiawi ataupun fisis (kalor, listrik) yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
Adanya nyeri sangat berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yaitu nosiseptor, merupakan ujung – ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa khususnya pada visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kantong empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa kimiawi, termal, listrik, atau mekanis.
Stimulasi berupa kimiawi yaitu suatu rangsangan reseptor nyeri (nosiseptor) yang berasal dari senyawa tubuh sendiri yang dibebaskan dari sel-sel yang rusak, yang disebut zat nyeri (mediator nyeri). Mediator nyeri yang kini juga disebut autacoida, terdiri dari antara lain histamin, serotonin, bradikinin, leukotrien, dan prostaglandin. Bradikinin adalah polipeptida (rangkaian asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prostaglandin mirip strukturnya dengan asam lemak dari protein plasma. Struktur prostaglandin mirip dengan asam lemak dan terbentuk dari asam arakhidonat. Menurut perkiraan, zat-zat ini dapat meningkatkan kepekaan ujung saraf sensoris bagi rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh mediator lainnya. Berhubung kerja dan inaktivasinya pesat dan bersifat lokal, maka dinamakan juga hormon lokal.

Pelepasan mediator nyeri akibat kerusakan jaringan yang menyebabkan munculnya sensasi nyeri

Ambang Nyeri
            Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) pada mana nyeri dirasakan untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas rangsangan yang terendah saat seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan.

Klasifikasi Nyeri
             Menurut tempat terjadinya, nyeri terbagi atas nyeri somatik dan nyeri dalaman (viseral). Dikatakan nyeri somatik apabila rasa nyeri berasal dari kulit, otot, persendian, tulang, atau dari jaringan ikat. Nyeri somatik dibagi atas dua kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam. Nyeri permukaan yaitu apabila rangsangan bertempat didalam kulit, sedangkan nyeri dalam apabila rangsangan berasal dari otot, persendian tulang dan jaringan ikat. Nyeri dalam (viseral) atau nyeri perut mirip dengan nyeri dalam sifat menekannya dan reaksi vegetative yang menyertainya. Nyeri ini terjadi antara lain pada tengangan organ perut, kejang otot polos, aliran darah kurang dan penyakit yang disertai radang.
Berdasarkan sifatnya, nyeri dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a.      Nyeri Akut
Nyeri akut berlangsung tiba-tiba dan umumnya berhubungan dengan adanya suatu lesi atau trauma jaringan ataupun cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan adanya suatu kerusakan atau cedera yang baru saja terjadi.
Sensasi dari suatu nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan adanya proses penyembuhan. Biasanya akan cepat membaik bila diberi obat pengurang rasa nyeri (analgetik). Nyeri akut memiliki tujuan untuk memperingatkan adanya suatu cedera atau masalah. Nyeri akut umumnya berlangsung kurang dari enam bulan.
b.      Nyeri Kronis
Nyeri kronis merupakan suatu keadaan yang berlangsung secara konstan atau intermiten dan menetap sepanjang suatu periode waktu, dimana terjadi lesi jaringan yang bersifat permanen. Nyeri ini berlangsung diluar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik.
Nyeri kronis adalah suatu keadaan ketidaknyamanan yang dialami individu yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Suatu episode nyeri dapat mempunyai karakteristik nyeri kronis sebelum 6 bulan telah berlalu, atau beberapa jenis nyeri dapat tetap bersifat akut secara primer selama lebih dari 6 bulan.
Perbedaan antara kedua jenis nyeri yaitu nyeri akut dan kronis dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

 OBAT ANALGETIK
1.      Analgetik Narkotika
Obat analgetika narkotika merupakan obat yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif, dugnakan untuk mengurangi rasa nyeri sedang hingga berat, seperti rasa nyeri akibat kanker, serangan jantung akut, pasca operasi, dan lain-lain.
Obat ini sering disalahgunakan karena dapat menimbulkan toleransi,kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensia bila diputuskan pengobatan (gejala putus obat), ataupun kecanduan. Jika pemberian obat dengan dosis yang berlebihan (overdose) dapat menyebabkan kematian karena terjadi depresi pernafasan.
Mekanisme Kerja:
Efek analgetik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euforia dan rasa mengantuk. Menurut Beckett dan Casy, reseptor turunan morfin mempunyai tiga sisi yang sangat penting untuk timbulnya aktivitas analgetik yaitu:
1)      Struktur bidang datar, yang mengikat cincin aromatik obat melalui ikatan van der Waals
2)      Tempat anionik, yang mampu berinteraksi dengan muatan positif obat
3)     Lubang dengan orientasi yang sesuai untuk menampung bagian -CH2-CH2- dari proyeksi cincin piperidin yang terletak di depan bidang yang mengandung cincin aromatik dan pusat dasar.
Berdasarkan struktur kimia, analgetik narkotika dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
a.      Turunan morfin
           Morfin dipakai dalam dunia kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit atau pembiusan pada operasi (pembedahan). Dikarenakan turunan morfin menimbulkan efek kecanduan yang terjadi secara cepat, maka dicari turunan atau analognya yang masih memiliki efek analgetik tetapi meminimalkan efek kecanduan yang lebih rendah.
Struktur umum morfin

Hubungan struktur-aktivitas turunan morfin dijelaskan sebagai berikut:
Fenolik OH
Metilasi gugus fenolik OH dari morfin akan mengakibatkan penurunan aktivitas analgetik secara drastis. Gugus fenolik bebas adalah sangat krusial untuk aktivitas analgetik.

6-Alkohol
Penutupan atau penghilangan gugus alkohol tidak akan menimbulkan penurunan efek analgetik dan pada kenyataannya malah sering menghasilkan efek yang berlawanan. Peningkatan aktivitas lebih disebabkan oleh sifat farmakodinamik dibandingkan dengan afinitasnya dengan reseptor analgetik. Dengan kata lain, lebih ditentukan oleh berapa banyak obat yang mencapai reseptor, bukan seberapa terikat dengan reseptor.
Analog morfin menunjukkan kemampuan untuk mencapai reseptor lebih efisien dibandingkan dengan morfin itu sendiri. Hal ini disebabkan karena reseptor analgetik terletak di otak dan untuk mencapai otak, obat harus melewati sawar darah otak. Dalam rangka untuk mencapai otak, maka terlebih dahulu harus melewati barier ini. Mengingat barier tersebut adalah lemak maka senyawa yang bersifat polar akan kesulitan menembus membran. Morfin memiliki tiga gugus polar (fenol, alkohol dan, amin) sedangkan analognya telah kehilangan gugus polar alkohol atau ditutupi dengan gugus alkil atau asil. Dengan demikian maka analog morfin akan lebih mudah masuk ke otak dan terakumulasi pada sisi reseptor dalam jumlah yang lebih besar sehingga aktivitas analgetiknya juga lebih besar.

Gugus N-metil
Atom nitrogen dari morfin akan terionisasi ketika berikatan dengan reseptor. Penggantian gugus N-metil dengan proton mengurangi aktivitas analgetik tetapi tidak menghilangkannnya. Gugus NH lebih polar dibandingkan dengan gugus N-metil tersier sehingga menyulitkannya dalam menembus sawar darah otak akibatnya akan menurunkan aktivitas analgetik. Hal ini menunjukkan bahwa substitusi N-metil tidak terlalu signifikan untuk aktivitas analgetik. Sedangkan penghilangan atom N akan menyebabkan hilangnya aktivitas analgetik.
Cincin Aromatik
Cincin aromatik memegang peranan penting dimana jika senyawa tidak memiliki cincin aromatik tidak akan menghasilkan aktivitas analgetik. Cincin A dan nitrogen merupakan dua struktur yang umum ditemukan dalam aktivitas analgetik opioid. Cincin A dan nitrogen dasar adalah komponen penting dalam efek untuk μ agonis, akan tetapi jika hanya kedua komponen ini saja, tidak akan cukup juga untuk menghasilkan aktivitas, sehingga penambahan gugus farmakofor diperlukan. Substitusi pada cincin aromatik juga akan mengurangi aktivitas analgetik.

Jembatan Eter
Pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5 akan menurunkan aktivitas analgetik.

Stereokimia
Morfin adalah molekul asimetrik yang mengandung beberapa pusat kiral dan secara alami sebagai enansiomer tunggal. Ketika morfin pertama kali disintesis, dibuat sebagai sebuah rasemat dari campuran enansiomer alami dan bagian mirror nya. Ini selanjutnya dipisahkan dan “Unnatural” morfin dites aktivitas analgetiknya dimana hasilnya tidak menunjukkan aktivitas. Hal ini disebabkan karena interaksi dengan reseptornya dimana telah diidentifikasi bahwa setidaknya ada tiga interaksi penting melibatkan fenol, cincin aromatik dan amida pada morfin. Reseptor mempunyai gugus ikatan komplemen yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga mampu berinteraksi dengan ketiga gugus tadi. Sedangkan pada “Unnatural” morfin hanya dapt terjadi satu interaksi resptor dalam sekali waktu.

Epimerization pusat kiral tunggal seperti posisi 14 tidak juga menguntungkan, karena perubahan stereokimia di bahkan satu pusat kiral dapat mengakibatkan perubahan bentuk yang drastis, sehingga mustahil bagi molekul untuk berikatan dengan reseptor analgetik.

Penghilangan Cincin E
Penghilangan cincin E akan mengakibatkan kehilangan seluruh aktivitas, hal ini menunjukkan pentingnya nitrogen untuk aktivitas analgetik.

Hubungan Struktur-Aktivitas Lain:
ü  Eterifikasi dan esterifikasi gugus hidroksil fenol akan menurunkan aktivitas analgetik, meningkatkan aktivitas anti batuk dan meningkatkan efek kejang.
ü  Eterifikasi, esterifikasi, oksidasi atau pergantian gugus hidroksil alkohol dengan halogen atau hidrogen dapat meningkatkan aktivitas analgetik, meningkatkan efek stimulan, tetapi juga meningkatkan toksisitas.
ü  Perubahan gugus hidroksil alkohol dari posisi 6 ke posisi 8 menurunkan aktivitas analgetik secara drastis.
ü  Pengubahan konfigurasi OH pada C6 dapat meningkatkan aktivitas analgetik.
ü  Hidrogenasi ikatan rangkap C7-C8 dapat menghasilkan efek yang sama atau lebih tinggi disbanding morfin
ü  Substitusi pada cincin aromatik akan mengurangi aktivitas analgetik.
ü  Pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5 akan menurunkan aktivitas.
ü  Pembukaan cincin piperidin menyebabkan penurunan aktivitas
ü  Demetilasi pada C17 dan perpanjangan rantai alifatik yang terikat pada atom N dapat menurunkan aktivitas. Adanya gugus alil pada atom N menyebabkan senyawa bersifat antagonis kompetitif.

a.      Turunan fenil piperidin (meperidin)
Meskipun strukturnya tidak berhubungan dengan struktur morfin tetapi masih menunjukkan kemiripan karena mempunyai pusat atom C kuartener, rantai etilen, gugus N-tersier dan cincin aromatik sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor analgetik.
Struktur umum turunan meperidin

Hubungan struktur-aktivitas turunan meperidin dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
b.      Turunan difenilpropilamin (metadon)
Turunan metadon bersifat optis aktif dan biasanya digunakan dalam bentuk garam HCl. Meskipun tidak mempunyai cincin piperidin, seperti pada turunan morfin atau meperidin, tetapi turunan metadondapat membentuk cincin bila dalam larutan atau cairan tubuh. Hal ini disebabkan karena ada daya tarik – menarik dipol-dipol antara basa N dengan gugus karboksil.

Struktur umum turunan metadon

  • Metadon, mempunyai aktivitas analgetik 2 kali morfin dan 10 kali meperidin. Levanon adalah isomer levo metadon, tidak menimbulkan euforia seperti morfin dan dianjurkan sebagai obat pengganti morfin untuk pengobatan kecanduan.
  • Propoksifen, yang aktif sebagai analgetik adalah bentuk isomer α (+). Bentuk isomer α (-) dan β-diastereoisomer aktivitas analgetiknya rendah. α (-) Propoksifen mempunyai efek antibatuk yang cukup besar. Aktivitas analgetik α (+) propoksifen kira-kira sama dengan kodein, dengan efek samping lebih rendah. α (+) propoksifen digunakan untuk menekan efek gejala withdrawal morfin dan sebagai analgetik nyeri gigi. Berbeda dengan efek analgetik narkotik yang lain, α (+) propoksifen tidak mempunyai efek antidiare, antibatuk dan antipiretik.
2.      Analgetik Non Narkotika
Analgetik non narkotika biasanya digunakan untuk mengurangi rasa nyeri yang bersifat ringan, juga menurunkan suhu badan pada keadaan panas badan yang tinggi dan sebagai antiradang untuk pengobatan rematik. Analgetika non narkotik bekerja pada perifer dan sentral sistem saraf pusat. Berdasarkan struktur kimianya analgetika non narkotik dibagi menjadi dua kelompok yaitu analgetik-antipiretik dan obat antiradang bukan steroid (Non Steroid antiinflamatory Drugs = NSAID).

Mekanisme kerja :
a. Analgetik
Analgetika non narkotik menimbulkan efek analgetik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti baradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.
b. Anti-piretik
Analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi buluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat.
c. Anti radang
Analgetika non narkotik menimbulkan efek antiradang dengan menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala keradangan. Mekanisme lain adalah menghambat enzim-enzim yang terlibat pada biosintesis mukopolisakarida dan glikoprotein, meningkatkan pergantian jaringan kolagen dengan memperbaiki jaringan penghubung dan mencegah pengeluaran enzim-enzim lisosom melalui stabilisasi membran yang terkena radang.
Berdasarkan struktur kimianya, analgetik dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain:
a. Turunan Asam Salisilat (contoh: aspirin, salisilamid, diflunisal)

Hubungan struktur-aktivitas turunan asam salisilat:
  1. Senyawa yang aktif sebagai antiradang adalah anion salisilat. Gugus karboksilat penting untuk aktivitas dan letak gugus hidroksil harus berdekatan dengannya.
  2. Turunan halogen, seperti asam 5-klorsalisilat, dapat meningkatkan aktivitas tetapi menimbulkan toksisitas lebih besar.
  3. Adanya gugus amino pada posisi 4 akan menghilangkan aktivitas.
  4. Pemasukan gugus metil pada posisi 3 menyebabkan metabolism atau hidrolisis gugus asetil menjadi lebih lambat sehingga masa kerja obat menjadi lebih panjang.
  5.  Adanya gugus aril yang bersifat hidrofob pada posisi 5 dapat meningkatkan aktivitas.
  6.  Adanya gugus difluorofenil pada posisi meta dari gugus karboksilat (diflunisal) dapat meningkatkan aktivitas analgetik, memperpanjang masa kerja obat dan menghilangkan efek samping, seperti iritasi saluran cerna dan peningkatan waktu pembekuan darah.
  7. Efek iritasi lambung dari aspirin dihubungkan dengan gugus karboksilat. Esterifikasi gugus karboksil akan menurunkan efek iritasi tersebut. Karbetil salisilat adalah ester karbonat dari etil asetat. Ester ini tidak menimbulkan iritasi lambung dan tidak berasa.

b.      Turunan Asam N-Arilantranilat (contoh: asam mefenamat, asam flufenamat, natrium meklofenamat)
Merupakan analog nitrogen dari asam salisilat. Obat ini berkhasiat sebagai anti radang dalam pengobatan penyakit ringan. Efek samping yang ditimbulkan antara lain, iritasi saluran cerna, mual, diare, nyeri abdominal, anemia, agranulositosis dan trombositopenia.

Hubungan struktur-aktivitas turunan asam N-arilantranilat:
  1. Turunan asam N-antranilat mempunyai aktivitas yang lebih tinggi bila pada cincin benzene yang terikat atom N mempunyai substituen-substituen pada posisi 2,3, dan 6.
  2. Senyawa yang aktif adalah turunan senyawa 2,3-disubstitusi. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa mempunyai aktivitas yang lebih besar apabila gugus-gugus pada N-aril berada di luar koplanaritas asam antranilat. Struktur tidak planar tersebut sesuai dengan tempat reseptor hipotetik antiradang. Contoh: adanya substituen orto-metil pada asam mefenamat dan orto-klor pada asam meklofenamat akan meningkatkan aktivitas analgetik.
  3. Penggantian atom N pada asam antranilat dengan gugus-gugus isosterik seperti O,S, dan CH2 dapat menurunkan aktivitas.
c.      Turunan Anilin dan para-Aminofenol (contoh: asetaminofen yaitu parasetamol, panadol)
Senyawa ini memiliki aktivitas analgetik-antipiretik sebanding dengan aspirin, tetapi tidak memiliki efek antiradang dan antirematik. Obat ini berkhasiat untuk mengurangi rasa nyeri pada kepala dan pada otot atau sendi, serta obat penurun panas yang cukup baik. Efek samping dari obat ini yaitu methemoglobin dan hepatotoksik.

Hubungan struktur-aktivitas turunan anilin dan para-aminofenol:
  1. Anilin mempunyai efek antipiretik cukup tinggi tetapi toksisitasnya juga besar karena menimbulkan methemoglobin, suatu bentuk hemoglobin yang tidak dapat berfungsi sebagai pembawa oksigen.
  2. Substitusi pada gugus amino mengurangi sifat kebasaan dan dapat menurunkan aktivitas dan toksisitasnya. Asetilasi gugus amino (asetanilid) dapat menurunkan toksisitasnya, pada dosis terapi relatif aman tetapi pada dosis yang lebih besar menyebabkan pembentukan methemoglobin dan mempengaruhi jantung. Homolog yang lebih tinggi dari asetanilid mempunyai kelarutan dalam air sangat rendah sehingga efek analgetik dan antipiretiknya juga rendah.
  3. Turunan aromatik dari asetanilid, seperti benzenanilid, sukar larut dalam air, tidak dapat dibawa oleh cairan tubuh ke reseptor sehingga tidak menimbulkan efek analgetik, sedang salisilanilid sendiri walaupun tidak mempunyai efek analgetik tetapi dapat digunakan sebagai antijamur.
  4.  Para-aminifenol adalah produk metabolik dari anilin, toksisitasnya lebih rendah disbanding anilin dan turunan orto dan meta, tetapi masih terlalu toksik untuk langsung digunakan sebagai oat sehingga perlu dilakukan modifikasi struktur untuk mengurangi toksisitasnya.
  5. Asetilasi gugus amino dari para-aminofenol (asetaminofen) akan menurunkan toksisitasnya, pada dosis terapi relatif aman tetapi pada dosis yang lebih besar dan pada pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan methemoglobin dan kerusakan hati.
  6. Eterifikasi gugus hidroksi dari para-aminofenol dengan gugus metil (anisidin) dan etil (fenetidin) meningkatkan aktivitas analgetik tetapi karena mengandung gugus amino bebas maka pembentukan methemoglobin akan meningkat.
  7. Pemasukan gugus yang bersifat polar, seperti gugus karboksilat dan sulfonat, ke inti benzene akan menghilangkan aktivitas analgetik.
  8. Etil eter dari asetaminofen (fenasentin) mempunyai aktivitas analgetik cukup tinggi, tetapi pada penggunaan jangka panjang menyebabkan methemoglobin, kerusakan ginjal dan bersifat karsinogenik sehingga obat ini dilarang di Indonesia.
  9. Ester salisil dari asetaminofen (fenetsal) dapat mengurangi toksisitas dan meningkatkan aktivitas analgetik.

DAFTAR PUSTAKA
Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Edisi 5. Penerjemah Mathilda B. Widianto, Anna Setiadi Ranti.
          Bandung: ITB Press.
Siswandono dan B. Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal I. Surabaya: Airlangga University Press.
Tjay, Tan Hoan dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek 
          Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Pertanyaan..

  1. Apakah ada obat yang menjadi first line drug untuk obat analgetik narkotik dan non narkotik?
  2. Apakah ada interaksi obat analgetik dengan obat lain ataupun dengan makanan?
  3. Dari struktur metadon, gugus manakah yang berperan sebagai analgetik?
  4. Bagaimana mekanisme obat analgetik dapat menyebabkan depresi pernafasan?
  5. Sebutkan contoh obat analgetik narkotik dan non narkotik. Jelaskan mekanisme kerja, efek samping, dan dosis obat tersebut

BISACODYL - STIMULANT LAXATIVE


Sembelit atau orang awam menyebutnya susah buang air besar (BAB) / konstipasi termasuk masalah pencernaan yang paling umum dan bisa terjadi siapa saja di masyarakat. Hampir semua orang mengalaminya, namun sebagian hanya menganggapnya suatu hal yang tidak perlu dianggap serius. Padahal, dalam suatu penelitian, ternyata sembelit atau sulit BAB mempunyai andil besar dalam menyebabkan kanker usus.
Apa itu sembelit?
Sembelit adalah suatu penyakit gangguan sistem pencernaan, dimana seseorang kesulitan buang air besar dengan konsistensi feses yang padat dengan frekuensi buang air besar lebih atau sama dengan 3 hari sekali. Menurut World Gastroenterology Organization (WGO) konstipasi adalah defekasi keras (52%), tinja seperti pil / butir obat (44%), ketidakmampuan defekasi saat diinginkan (34%), atau defekasi yang jarang (33%). Menurut North American Society of Gastroenterology and Nutrition, konstipasi adalah kesulitan atau lamanya defekasi, timbul selama 2 minggu atau lebih, dan menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien.
Penyebab sembelit
Sembelit dapat disebabkan beberapa hal, antara lain:
1.      Kurang mengonsumsi makanan yang mengandung serat dan makanan yang tidak sehat
2.      Kurangnya asupan cairan atau kurang minum
3.      Jarang beraktivitas atau olahraga
4.      Stress
5.      Perubahan kebiasaan diet
6.      Menahan rasa ingin buang air besar
7.      Efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti konsumsi suplemen zat besi
Gejala dan tanda sembelit
Gejala sembelit adalah frekuensi defekasi kurang dari tiga kali per minggu, nyeri saat defekasi, tinja keras, sering mengejan pada saat defekasi, perut terasa nyeri, kembung, dan terjadi perdarahan rectum (tinja yang keluar keras dan kehitaman). Keluhan tersebut makin bertambah berat, bahkan sampai timbulnya gejala obstruksi intestinal.
Cara atasi sembelit
Sembelit dapat diatasi dengan terapi non farmakologi dan terapi farmakologi. Pengobatan sembelit dengan terapi non farmakologi antara lain, meningkatkan konsumsi makanan yang berserat seperti buah-buahan, meningkatkan asupan cairan, dan berolahraga. Sedangkan pengobatan dengan terapi farmakologi yaitu mengonsumsi obat-obatan yang bersifat sebagai laksatif/pencahar.
Bisacodyl – Stimulant Laxative
        


Nama generik : Bisacodyl
Sediaan yang beredar : Bisakodil (Generik) Tablet Ss. 5 mg (T), Dulcolax (Schering Indonesia) Tablet Se. 5 mg; Suppositoria 5 mg, 10 mg (T), Laxamex (Konimex) Tablet Se. 5 mg (T), Melaxan (Mecosin) Tablet Se. 5 mg (T), Prolaxan (Harsen) Tablet Se. 5 mg (T).
Golongan : laksatif / pencahar
Indikasi : konstipasi, tablet bekerja dalam 10-12 jam, suppositoria bekerja dalam 20-60 menit, sebelum prosedur rediologi dan bedah.
Dosis :
·         oral untuk konstipasi 5-10 mg malam hari; kadang-kadang perlu dinaikkan menjadi 15-20 mg; anak-anak dibawah 10 tahun 5 mg.
·         Suppositoria untuk konstipasi 10 mg pada pagi hari; anak-anak dibawah 10 tahun 5 mg.
·         Sebelum prosedur dan bedah, 10 mg oral sebelum tidur malam selama 2 hari sebelum pemeriksaan, dan jika perlu suppositoria 10 mg 1 jam sebelum pemeriksaan; anak-anak setengah dosis dewasa.
Bisacodyl merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi konstipasi dengan cara merangsang otot-otot usus besar untuk mengeluarkan kotoran. Selain mengatasi konstipasi, bisacodyl kadang-kadang diberikan dokter sebelum dilakukannya prosedur operasi, serta kerap digunakan klinik atau rumah sakit untuk mengosongkan isi perut sebelum dilakukannya pemeriksaan medis tertentu.
Mekanisme kerja bisacodyl adalah dalam pengobatan sembelit atau konstipasi yaitu dengan merangsang saraf enterik sehingga menyebabkan kontraksi kolon (usus besar), menghasilkan feses lunak atau semifluid dalam 6-12 jam dan termasuk senyawa yang bekerja dalam mempercepat pengosongan usus dalam 1-6 jam. Obat bisacodyl termasuk obat stimulant laksatif lainnya, terutama berfungsi untuk mengosongkan usus besar.


Efek samping bisacodyl yaitu dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, seperti diare. Hal ini disebabkan karena mekanisme kerja bisacodyl yaitu meningkatkan kontraksi usus besar, sehingga meningkatkan frekuensi defekasi dan feses yang dihasilkan menjadi lunak. Sehingga jika diberikan bisacodyl terus menerus atau setelah sembelit terobati, dapat menyebabkan feses berair yang menyebabkan diare. Selain tablet, bentuk sediaan bisacodyl yaitu suppositoria. Jika tidak mengikuti petunjuk penggunaan bisacodyl suppositoria, maka dapat menyebabkan iritasi pada daerah rektum.

Berdasarkan penjelasan diatas, sebaiknya kita mencegah terjadinya sulit buang air besar, seperti mengonsumsi makanan yang berserat, minum air yang banyak, dan berolahraga. Tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat pencahar selama lebih dari 2 minggu, karena dapat memperparah gejala sembelit / sulit buang air besar.

Pertanyaan..

  1. Apakah aman jika bisacodyl digunakan dalam jangka panjang? Mengapa demikian?
  2. Bagaimana solusi untuk mengurangi efek samping dari obat bisacodyl?
  3. Bagaimana bioavailabilitas bisacodyl jika digunakan secara oral sehingga menimbulkan efek?
  4. Bagaimana mencegah iritasi pada daerah rektum setelah penggunaan bisacodyl suppositoria?

Kamis, 09 Februari 2017

VCO sebagai Anti Diabetes


Diabetes Melitus (atau disingkat DM) merupakan salah satu penyakit sering diderita oleh masyarakat di Indonesia di berbagai daerah. Diabetes melitus merupakan penyakit mematikan ketiga setelah kanker dan penyakit jantung.
Pada tahun 2014, penderita diabetes mellitus mencapai 9% dari populasi dunia yang berusia 18 tahun keatas (WHO, 2015). Di Indonesia sendiri pada tahun 2014, prevalensi diabetes pada usia dewasa (20-79 tahun) adalah 5,8% dengan total penderita diabetes sebanyak 9 juta jiwa dan akan menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030, serta 4,8 juta kasus diabetes yang tidak terdiagnosis (IDF, 2015).

Apa itu Diabetes Melitus?
Diabetes merupakan penyakit gangguan metabolik yang ditandai kelebihan glukosa dalam darah (hiperglikemia) dan abnormalitas metabolisme dari karbohidrat, lemak dan protein. Hal tersebut merupakan hasil dari defect sekresi insulin baik mutlak atau relatif (Priyanto, 2009).
Penyakit diabetes terjadi di seluruh dunia dan terus meningkat secara pesat di sebagian besar di dunia. Penderita penyakit diabetes tidak dapat menghasilkan atau menggunakan insulin di dalam tubuh secara tepat, akibatnya memiliki kadar glukosa yang tinggi. Penderita diabetes kemungkinan dapat menyebabkan penyakit komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal dan kematian dini (National Diabetes Reports, 2014).
Jumlah penderita diabetes di Indonesia akan semakin meningkat tiap tahunnya. Merebaknya penyakit diabetes di kalangan masyarakat Indonesia sangat erat kaitannya dengan gaya hidup dan pola makan yang tidak teratur dan tidak sehat.

Tanda dan Gejala Penderita DM
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar glukosa darah, dimana peningkatan kadarnya mencapai nilai 160-180mg/dl dengan kadar normal glukosa darah yaitu berkisar antara 70-150 mg/dl. Selain itu dapat dilihat juga dari air seni (urin) penderita yang mengandung gula (glukosa), sehingga urin tersebut sering dikerubuti oleh semut
Gejala yang sering timbul pada penderita DM:

  1. Jumlah urin yang dikeluarkan lebih banyak dari normalnya (Polyuria)
  2. Sering cepat merasa haus (Polydipsia)
  3. Lapar yang berlebihan (Polyphagia)
  4. Frekuensi urin meningkat (Glycosuria)
  5. Berat badan berkurang
  6. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
  7. Penglihatan buram (tidak jelas)
  8. Kesemutan di telapak kaki dan tangan
  9. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit

Tipe Diabetes Melitus
Umumnya diabetes melitus dibagi menjadi 2 yaitu:
1.        DM Tipe 1
DM tipe 1 atau disebut juga dengan Insulin Dependent atau juvenile onset diabetes dapat berkembang sejak usia muda yang disebabkan karena adanya kerusakan sel β pankreas sehingga menyebabkan penurunan produksi hormon insulin secara permanen. Dimana hormon insulin berperan dalam pengambilan glukosa didalam darah masuk kedalam sel yang akan menghasilkan energi. DM tipe ini jarang terjadi, kejadiannya kira-kira 5% dari total kasus DM
2.        DM Tipe 2
DM tipe 2 atau disebut juga dengan DM tidak tergantung insulin atau DM dewasa. Dinamakan DM dewasa karena umumnya muncul pada pasien usia >40 tahun. DM tipe ini ditandai dengan adanya resistensi insulin atau defisiensi insulin atau gabungan keduanya. DM tipe ini cenderung hormon insulin yang dihasilkan masih dalam kadar normal, namun hormon tersebut tidak dapat berikatan dengan reseptornya. Jika hormon insulin tidak dapat berkaitan dengan reseptor, akibatnya dapat menurunkan pengambilan glukosa didalam darah masuk kedalam sel. Sehingga terjadi penumpukan glukosa didalam darah dan energi yang dihasilkan berkurang. DM tipe 2 terjadi ketika gaya hidup dengan asupan kalori berlebihan, kurang olahraga, obesitas dan ada dukungan faktor genetic. DM tipe ini terjadi kira-kira 90-95% dari total kasus DM.
3.        Gestasional Diabetes
Gestasional diabetes adalah bentuk diagnose dari glukosa intoleransi selama kedua atau ketiga trisemester kehamilan. Selama kehamilan, meningkatnya kadar glukosa dalam darah dapat meningkatkan resiko bagi Ibu dan janin nya. Pengobatan dapat dilakukan dengan diet, aktivitas fisik dan insulin. Tak lama setelah kehamilan, 5-10% wanita penderita gestasional diabetes terus memiliki kadar glukosa dalam darah tinggi dan didiagnosis memiliki diabetes, biasanya tipe 2.

VCO sebagai Anti Diabetes
Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni merupakan minyak kelapa yang diesktrak dari buah kelapa segar yang sudah matang, diproses melalui fermentasi tanpa menggunakan bahan kimia atau secara enzimatik tanpa pemanasan, sehingga menghasilkan asam lemak jenuh rantai sedang atau Medium Chain Fatty Acids (MCFA) yang tinggi, vitamin E, anti oksidan dan enzim-enzim yang ada didalam buah kelapa (Muchtar, 2010).
Selain berfungsi dalam makanan, VCO juga dapat berperan dalam bidang kesehatan, salah satunya sebagai anti diabetes. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ditemukan bahwa VCO dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah yang sebelumnya diinduksi dengan zat penginduksi diabetes melitus yaitu Alloxan. Diketahui bahwa VCO menurunkan kadar glukosa darah dari 300 mmHg menjadi 140 mmHg selama 4 minggu (Iranloye, et al., 2013).
Lalu berdasarkan penelitian yang lain menunjukkan juga bahwa VCO dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah pada hewan percobaan dari 25,85 mmol/l menjadi 10,93 mmol/l. Selain menekan dan menurunkan kadar glukosa dalam darah, VCO juga berperan meningkatkan jumlah sel β pankreas melalui multiplikasi atau regenerasi. Peningkatan jumlah sel β pankreas, akan meningkatkan produksi insulin selama 10 minggu masa regenerasi (Maidin dan Ahmad, 2015).
Menurut Djaelani (2015), asam-asam lemak yang tergolong MCFA pada Virgin Coconut Oil (VCO), mudah diserap sampai ke mitokondria sehingga akan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain itu dapat merangsang produksi insulin yang menyebabkan proses metabolisme glukosa dapat berjalan normal. MCFA yang banyak terkandung dalam VCO yaitu berupa asam laurat.
Maka dari itu, VCO dapat berpotensi sebagai anti diabetes dikarenakan mengandung asam lemak yang tergolong Medium Chain Fatty Acids (MCFA) yang dapat meningkatkan dan merangsang produksi insulin. Walaupun VCO memiliki bioaktivitas antidiabetes, terapi pilihan obat utama tetaplah injeksi insulin. Karena efek terapi yang dihasilkan oleh insulin lebih cepat dibandingkan VCO. Oleh sebab itu, VCO bukan digunakan sebagai pengobatan, tetapi hanyalah sebagai preventif (pencegahan) penyakit diabetes melitus.



Sumber:
Djaelani, Muhammad Anwar. 2015. Profil Kolesterol Darah Tikus setelah Pemberian Virgin Coconut Oil dan Minyak Zaitun. Jurnal Bioma, Vol. 17 (2): 102-105.
Iranloye, Bolanle., G. Oludare dan M. Olubiyi. 2013. Anti-diabetic and antioxidant effects of Virgin Coconut Oil in Alloxan Induced Diabetic Male Sprague Dawley Rats. Journal of Diabetes Mellitus, Vol. 3 (4): 221-226.
Maidin, Nur’ Azimatul Quddsyiah H. dan N. Ahmad. 2015. Protective and Antidiabetic Effects of Virgin Coconut Oil (VCO) on Blood Glucose Concentration in Alloxan Induced Diabetic Rats. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Vol. 7 (10): 57-60.
Muchtar, A.F. 2010. Be Healthy Be Happy. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer (BIP).
Priyanto, P. 2009. Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Jakarta: LESKONFI.